Dalam dunia e-commerce, terdapat dua model bisnis yang sering menjadi pilihan bagi pelaku usaha pemula, yaitu dropship vs reseller. Keduanya menawarkan peluang bisnis tanpa harus memproduksi produk sendiri.
Namun, ada perbedaan reseller dan dropship yang perlu dipahami sebelum memilih model bisnis yang tepat.
Reseller membeli produk dalam jumlah tertentu sebelum dijual kembali, sementara dropshipper hanya berperan sebagai perantara tanpa menyimpan stok.
Artikel ini akan membahas 7 perbedaan utama antara dropship vs reseller serta membandingkan mana yang lebih menguntungkan.
Dropship vs Reseller
Definisi Dropship dan Reseller
Apa Itu Dropship?

Dropship adalah model bisnis di mana penjual tidak perlu menyimpan stok barang.
Ketika ada pesanan dari pelanggan, dropshipper meneruskan pesanan tersebut ke supplier. Supplier kemudian mengurus pengemasan dan pengiriman produk langsung ke pelanggan atas nama dropshipper.
Model ini memungkinkan seseorang untuk berjualan tanpa modal besar karena tidak perlu membeli stok terlebih dahulu. Namun, dropshipper memiliki keterbatasan dalam mengontrol produk dan layanan pengiriman.
Apa Itu Reseller?

Reseller adalah individu atau bisnis yang membeli produk dalam jumlah tertentu dari supplier, kemudian menjualnya kembali dengan harga lebih tinggi.
Dalam model ini, reseller menyimpan stok sendiri dan bertanggung jawab atas pengemasan serta pengiriman kepada pelanggan.
Keunggulan utama reseller adalah;
- Keleluasaan dalam menentukan harga jual, dan
- Kontrol lebih besar terhadap produk.
Namun, jika ingin menjadi reseller, model ini memerlukan modal awal untuk membeli stok dan memiliki risiko produk tidak terjual.
7 Perbedaan Dropship vs Reseller
Model bisnis dropship vs reseller memiliki beberapa perbedaan mendasar yang memengaruhi cara operasional, keuntungan, dan risiko masing-masing.
Berikut adalah 7 perbedaan utama antara reseller dan dropship yang perlu dipahami sebelum memilih model bisnis yang tepat.
Kita mulai dari…
1. Modal Awal
- Dropship: Tidak memerlukan modal besar karena tidak perlu membeli stok produk.
- Reseller: Memerlukan modal awal untuk membeli stok dari supplier sebelum menjualnya kembali.
Sebagai contoh, seorang dropshipper bisa memulai bisnis dengan Rp0 modal stok, hanya memerlukan biaya pemasaran.
Sementara itu, reseller harus membeli produk dalam jumlah tertentu, misalnya Rp1.000.000 – Rp5.000.000, tergantung jenis produk yang dijual.
2. Kepemilikan Stok
- Dropship: Tidak perlu menyimpan stok. Produk dikirim langsung dari supplier ke pelanggan.
- Reseller: Harus menyimpan stok sendiri dan mengelola inventaris.
Reseller memiliki keunggulan dalam pengiriman lebih cepat, karena stok berada di tangan mereka.
Sebaliknya, dropshipper tidak memiliki risiko stok menumpuk, tetapi tidak bisa mengontrol ketersediaan barang di supplier.
3. Keuntungan Per Produk
- Dropship: Margin keuntungan lebih kecil karena harga produk dari supplier lebih tinggi.
- Reseller: Bisa mendapatkan keuntungan lebih besar karena membeli dalam jumlah grosir dengan harga lebih murah.
Sebagai ilustrasi:
- Dropshipper membeli produk seharga Rp100.000 dari supplier dan menjualnya seharga Rp130.000, sehingga keuntungan per produk hanya Rp30.000.
- Reseller membeli dalam jumlah besar dengan harga grosir Rp80.000 per produk dan menjualnya seharga Rp130.000, sehingga keuntungan per produk Rp50.000.
Dalam jumlah besar, reseller lebih berpeluang memperoleh keuntungan lebih tinggi dibandingkan dropshipper.
4. Kendali terhadap Produk dan Kualitas
- Dropship: Tidak memiliki kendali terhadap kualitas produk dan pengemasan karena semuanya dilakukan oleh supplier.
- Reseller: Bisa memastikan kualitas produk sebelum dikirim ke pelanggan.
Misalnya, seorang dropshipper menjual pakaian tetapi tidak bisa memastikan apakah produk yang dikirim oleh supplier memiliki kualitas yang baik.
Reseller, di sisi lain, bisa mengecek produk terlebih dahulu sebelum mengirimkannya ke pelanggan.
5. Proses Pengiriman
- Dropship: Pengiriman dilakukan langsung oleh supplier, sehingga dropshipper tidak perlu menangani logistik.
- Reseller: Harus mengurus sendiri pengemasan dan pengiriman produk kepada pelanggan.
Keuntungan model dropship adalah kemudahan operasional karena tidak perlu menangani pengiriman. Namun, reseller memiliki kendali lebih besar terhadap kecepatan pengiriman, karena tidak bergantung pada supplier.
6. Risiko Bisnis
- Dropship: Risiko lebih rendah karena tidak perlu membeli stok terlebih dahulu, tetapi rentan terhadap keterlambatan pengiriman dan perubahan harga dari supplier.
- Reseller: Risiko lebih tinggi karena harus membeli stok terlebih dahulu, tetapi memiliki potensi keuntungan lebih besar.
Misalnya, seorang dropshipper bisa mengalami kerugian jika supplier mengalami keterlambatan pengiriman atau produk yang dikirim tidak sesuai dengan deskripsi.
Reseller, meskipun memiliki risiko stok tidak terjual, bisa mengelola produk lebih baik dan menawarkan layanan lebih cepat kepada pelanggan.
7. Fleksibilitas dan Skala Bisnis
- Dropship: Lebih fleksibel karena bisa dilakukan tanpa modal besar dan dari mana saja.
- Reseller: Lebih sulit untuk diperbesar dalam skala besar karena keterbatasan stok dan modal.
Seorang dropshipper bisa menjual produk tanpa batasan lokasi dan tanpa perlu menyewa gudang.
Namun, reseller yang ingin memperbesar bisnisnya perlu mempertimbangkan manajemen stok yang lebih kompleks dan mungkin harus menyewa tempat penyimpanan barang.
Berikut adalah tabel perbandingan Dropship vs Reseller:
Aspek | Dropship | Reseller |
---|---|---|
Modal Awal | Tidak perlu beli stok | Perlu modal untuk beli stok |
Kepemilikan Stok | Tidak menyimpan stok | Harus menyimpan stok sendiri |
Keuntungan | Margin kecil, harga dari supplier lebih tinggi | Margin lebih besar, harga lebih murah dari supplier |
Kontrol Produk | Tidak bisa cek kualitas barang sebelum dikirim | Bisa memastikan kualitas produk sebelum dijual |
Proses Pengiriman | Supplier yang mengirim ke pelanggan | Reseller yang mengurus pengiriman |
Risiko Bisnis | Risiko rendah, tapi bergantung pada supplier | Risiko stok tidak terjual, tapi lebih fleksibel |
Skalabilitas | Lebih mudah diperbesar, bisa jual banyak produk | Tergantung kapasitas stok dan modal |
Mana yang Lebih Menguntungkan?
Keuntungan dari model dropship vs reseller sangat bergantung pada faktor berikut:
- Modal yang tersedia – Jika memiliki modal terbatas, dropship lebih ideal. Jika memiliki modal lebih besar, reseller bisa lebih menguntungkan.
- Jenis produk yang dijual – Produk dengan permintaan tinggi bisa lebih menguntungkan untuk reseller, sementara produk musiman lebih cocok untuk dropshipping.
- Strategi pemasaran – Dropship memerlukan strategi pemasaran digital yang lebih agresif untuk bersaing, sementara reseller bisa membangun brand sendiri.
- Kemampuan mengelola stok dan logistik – Jika tidak ingin repot dengan pengelolaan stok, dropship adalah pilihan yang lebih praktis.
Sebagai contoh, seorang pengusaha pemula yang ingin mencoba bisnis tanpa modal besar bisa memulai sebagai dropshipper.
Namun, jika ingin mendapatkan keuntungan lebih besar dalam jangka panjang, menjadi reseller bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Kesimpulan
Perbedaan reseller dan dropship terletak pada modal awal, kepemilikan stok, margin keuntungan, kendali terhadap produk, proses pengiriman, risiko bisnis, dan fleksibilitas skala usaha.
Dropship cocok bagi yang ingin memulai bisnis dengan modal minim dan tanpa risiko besar. Sementara itu, reseller lebih cocok bagi yang ingin mendapatkan keuntungan lebih besar dan memiliki kontrol penuh terhadap produk yang dijual.
Pilihan terbaik tergantung pada kebutuhan dan strategi bisnis yang ingin dijalankan. Jika ingin memulai tanpa modal besar, dropshipping adalah opsi yang ideal.
Namun, jika ingin membangun bisnis jangka panjang dengan margin keuntungan lebih besar, reseller bisa menjadi pilihan yang lebih menguntungkan.